;
Tampilkan postingan dengan label Kalam n Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalam n Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2012

Adab Ketika Makan dan Berkumpul dalam Pertemuan

Rabu, 04 April 2012

Bab I : Pendahuluan
            Dalam kehidupan sehari-hari tentulah sebagai umat manusia yang notabennya adalah makhluk hidup memerlukan asupan makanan ataupun minuman untuk tetap bertahan hidup. Dalam memenuhi kebutuhan makanan ataupun minuman, sebagai Islam mengharuskan pemeluknya untuk memakan makanan yang halal lagi baik. Baik halal dari makanan istu sendiri ataupun cara mendapatkannya, dan baik bagi tubuh manusia.
            Selain harus memakan makanan yang halal lagi baik, cara makanpun dalam Islam telah diberi tuntunan oleh Nabi Muhammmad SAW.  Yang mana itu semua demi kemaslahatan manusia sendiri. Karena pada dasarnya ajaran Islam itu diperuntukkan untuk kehidupan manusia agar pada jalan yang baik bagi manusia itu sendiri.
            Selain sebagai makhluk yang konsumtif manusia juga sebagai makhluk sosial yang mana tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan bantuan ataupun berinteraksi dengan manusia lainnya.
Dalam berkumpul, Islam juga telah mengatur agar kehidupan manusia ini sebagai makhluk sosial berjalan dengan baik.
            Beberapa adab ketika makan dan berkumpul dalam pertemuan akan di bahas dalam makalah ini dengan merujuk pada riwayat-riwayat yang telah ada, yang mana hal tersebut dicontohkan ataupun anjuran dari Rasullulah SAW. Semoga dapat memberikan manfaat.

Bab II : Pembahasan
A.    Pengertian
Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama Agama Islam. Norma tentang adab ini digunakan dalam pergaulan antarmanusia, antartetangga, dan antarkaum. Sebutan orang beradab sesungguhnya berarti bahwa orang itu mengetahui aturan tentang adab atau sopan santun yang ditentukan dalam agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, kata beradab dan tidak beradab dikaitkan dari segi kesopanan secara umum dan tidak khusus digabungkan dalam agama Islam
Makan adalah proses masuknya suatu makanan kedalam perut yang mana melalui sistem pencernaan. Makan adalah usaha untuk memasukkan nutrisi dalam tubuh demi memenuhi kebutuhan jasmaniah. Simana ketika jasmani ini sehat diharapkan dapat menunjang ibadah kepada Allah SWT.
Berkumpul dalam suatu pertemuan adalah menyatunya beberapa orang dalam satu kesatuan yang mana satu dengan yang lainnya dalam usaha memperbincangkan sesuatu ataupun ada hal-hal yang akan dilakukan. Berkumpul dapat berupa dalam suatu pekerjaan ataupun dalam rangka menuntut ilmu ataupun kegiatan yang lainnya.
Adab ketika makan dan berkumpul dalam pertemuan telah ada aturannya di dalam ajaran Islam dimana ajaran Islam ini mengatur adab itu untuk mengatur kehidupan manusia. Sehingga apabila manusia mengikuti adab makan yang telah dianjurkan maka bisa dipastikan manusia itu akan sehat jasmani dan rohaninyanya. Begitu pula dalam pertemuan, akan tercipta suasana yang kondusif dan tidak menimbulkan masalah-masalah sosial yang dapat memacu timbulnya pertikaian dan permusuhan.
B.   Adab Makan
Setiap manusia hidup pasti memerlukan makan minum. Ini sudah menjadi keharusan,sebab tanpa itu tentu mati. Tetapi makan dan minum itupun wajib menurut aturannya.jangan asal suka, terus dimasukkan saja, sehingga perut menjadi sesak dan padat, penuh dan tidak ada kelonggarannya samasekali. Dan didalam ajaran Islam adab makan ini telah di contohkan oleh Rasullulah SAW. Sehingga para umat Islam hendaknya mengikuti ajaran beliau khususnya di sini mengenai adab makan.
Ada beberapa adab atau etika yang harus di lakukan sebelum makan yaitu: membaca basmalah (bismillah), makan dengan menggunakan tangan kanan dan tidak terlalu terburu-buru, Rasulullah saw. telah mengajarakan dan mendidik umatnya dengan semua adab-adab tersebut, karena di zaman jahiliyah mereka tidak pernah mempelajari hal tersebut.
Dari Abi Juhaifah radhiyallahu'anhu ia berkata: "aku sedang bersama Rasulullah saw. maka beliau bersabda kepada seseorang yang sedang bersama dengan beliau: saya tidak akan makan ketika saya sedang bersandar". Di keluarkan oleh Imam Bukhari. Dari Salmah bin al Akwa' ia berkata: sesungguhnya ada seseorang yang makan bersama dengan Rasulullah saw. dan menggunakan tangan kiri, maka Rasulullah saw. bersabda: makanlah dengan tangan kanan! Ia menjawab: saya tidak bisa (makan dengan tangan kanan), beliau saw. bersabda: kamu tidak mampu, tidak ada yang mencegahnya untuk (makan dengan tangan kanan) kecuali karena sombong". Berkata: maka ia tidak mengangkatnya (menyuapkannya makanan tersebut) ke mulutnya".
Dari Umar bin Abi Salamah radhiyallahu'anhu ia berkata: di waktu saya kecil saya berada di rumah Rasulullah saw. dan (ketika sedang makan) tangan saya meraba (semua makanan yang ada) di piring, maka Rasulullah saw. bersabda kepada saya: wahai anak! Bacalah basmalah (bismillah), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang ada di depanmu".Muttafaqun 'alaih (di sepakati oleh Bukhari dan Muslim) dan lafadz ini dari Imam Bukhari.
Imam an Nawawi rahimahullah menyebutkan mengenai faidah yang bisa di petik dari hadits Salamah yaitu di dalamnya terdapat memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar dalam setiap keadaan, sehingga walaupun dalam keadaan makan".
Di dalam kitab Fathul baari syarah shahih Bukhari Al Haafidz Ibn Hajar rahimahullah mengatakan: di dalamnya terdapat faidah memerintahkan yang makruf dan melarang dari mengerjakan yang mungkar, walaupun sedang dalam keadaan makan, di dalamnya di anjurkan untuk mengajarkan adab atau etika makan dan minum, dan di dalam hadits itu juga terdapat kemuliaan Umar bin Abi Salamah radhiyallahu'anhu karena melakukan apa yang di perintahkan serta senantiasa melaksanakannya".

Berikut beberapa adab makan yang dicontohkan oleh Rasullulah SAW:
1.      Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
Ibnu Majah dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa menginginginkan agar Allah memperbanyak kebaikan rumahnya, maka hendaklah ia berwudhu ketika santapannya datang dan diangkat."

2.      Membaca Basmalah sebelum makan dan Hamdalah sesudahnya
Abu Daud dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah r.a., Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Apabila salah seorang di antara kamu makan, hendaklah ia menyebut nama Allah Ta’ala (Basmalah). Dan apabila ia lupa menyebut nama Allah Ta’ala pada awalnya, maka hendaklah ia mengucapkan, Bismillaahi awwalahu wa aakhirahu (Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan akhirnya)."

3.      Tidak mencela makanan yang disajikan kepadanya.
Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa ia berkata: "Rasulullah saw. sama sekali tidak pernah mencela suatu makanan pun. Apabila beliau berselera terhadap makanan itu, maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak menyukainya, maka beliau meninggalkannya."
4.      Makan dengan tangan kanan dan makanan yang dekat
Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah r.a. Ia mengatakan: "Pernah aku menjadi seorang budak di bawah pengawasan Rasulullah saw. Ketika (makan), tanganku bergerak di tempat makanan, Rasulullah saw. menegurku, "Hai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat denganmu."
5.      Dianjurkan duduk ketika minum dan makan
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. dari Nabi saw.: "Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri. Qatadah berkata, "Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa itu lebih buruk."
6.      Jangan kekenyangan
Isi perut hendaklah dibagi tiga macam, yakni sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernafas serta letak udara yang perlu dikosongkan, sehingga jiwa menjadi baik dan bersih. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sehubungan dengan urusan makan minum ini, yaitu:

a)      Perut besar itu adalah rumah penyakit, sedang menjaga diri sebelum sakit adalah pokok pangkal pengobatan, karena jikalau telah sakit tentu sukar diobati dan tentu makan waktu untuk kesembuhannya. Oleh sebab itu berlaku sederhanalah dalam makan minum,

b)      Bukan banyaknya makanan yang menyebabkan kuatnya tubuh, tetapi makan secukupnya itulah yang membuat tubuh menjadi bersemangat dan menyebabkan kecerdikan dan berfikir.

c)      Jikalau perut sudah terisi banyak makanan, maka sempitlah jadinya untuk isi minuman. Jikalau sudah di isi terlampau banyak dengan minuman, maka sempitlah jadinya untuk diisi udara. Kalau demikian itu, terjadi, maka kelesuan, kemalasan, kelelahan akan menghinggapi orang yang berbuat semacam itu. Hal ini sangat membahayakan kesehatannya, sebab akhirnya akan sering sakit-sakitan tubuhnya dan jiwanya menjadi pemalas dan gemar menganggur, fikirannya tumpul dan hilanglah semangat kerjanya. Akibatnya timbullah berbagai angan-angan yang buruk dalam fikirannya.

Sabda Rasulullah: “Tiada seorang anak Adam (manusia)pun yang memenuhi sesuatu wadah yang lebih buruk daripada perut. Cukuplah anak Adam (manusia) itu makan beberapa suap saja yang dapat mendirikan (menguatkan) tulang belakangnya. Oleh sebab itu, apabila perut itu mesti diisi, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga lagi untuk pernafasannya (jiwanya).”

Dari hal-hal di atas, maka dapatlah kita menilai, betapa tinggi ajaran yang diberikan oleh Rasulullah s.a.w. itu kepada ummatnya. Selanjutnya terserahlah kepada kita sendiri untuk melaksanakan atau mengabaikannya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita agar kita dapat selalu mengikuti dan mengamalkan ajaran-ajarannya itu. Amin.

C.    Adab Berkumpul dalam Pertemuan
Tempat-tempat pertemuan adalah tempat berkumpul dan bergaulnya orang-orang, terkadang  mereka melakukan hal-hal yang sesuai dengan syari’at dan terkadang sebaliknya mereka melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan syari’at, jika Rasulullah saw. melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan syari’at maka beliau saw. akan memberikan peringatan tentang hal tersebut, sehingga tempat pertemuan mereka jauh dari  hal-hal yang bersifat kemungkaran dan etika-etika yang buruk, sehingga mereka di karuniai kemuliaaan dan cinta.
Oleh karena ini, seharusnya seorang muslim jika menghadiri pertemuan umum, seyogyanya memberikan nasihat terhadap orang-orang yang melakukan hal-hal yang keliru yang bertentangan dengan syari’at dan memberi tahukan mereka hal yang baik.
Sebuah hadits dari Tsaried bin Suwaid radiyallahu ‘anhu beliau mengatakan: “ Rasulullah saw. lewat (di depanku) sementara saya sedang duduk seperti ini, aku meletakkan tangan kiriku di belakang punggungku dan aku bersandar pada aaliyah tanganku, maka beliau saw. mengatakan: kamu duduk dengan cara yang tidak di sukai oleh mereka”.
 Dari Jabir bin Samurah radiyallahu ‘anhu beliau berkata: “ Rasulullah saw. keluar menemui kami, kemudian mengatakan: “  saya melihat kalian mengangkat tangan kalian seperti ekor-ekor kuda yang kepanasan? Diamlah ketika sedang shalat
Ia berkata: kemudian (orang-orang) keluar dengan berkelompok-kelompok, maka Rasulullah saw. berkata: mengapa saya melihat kalian berpisah-pisah? ('iziin) (HR. Muslim).
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: artinya larangan untuk berpisah-pisah dan perintah untuk berkumpul dan bersama-sama”.
      Dari Abi Tsa’labah al Khasyni radiyallahu ‘anhu beliau berkata: “ orang-orang jika turun dari suatu tempat, maka mereka berpisah di jalan-jalan, maka Rasulullah saw. bersabda: “ jika kalian terpisah-pisah seperti ini di jalan-jalan, sesungguhnya hal tersebut adalah dari setan”. Maka tidak ada yang turun dari suatu tempat setelah hal ini kecuali mereka bersama-sama dan bergabung satu sama lain, sampai di katakan: jika seandainya di bentangkan suatu kain di atas mereka maka kain itu akan menutupi mereka semua. (HR. Abu Daud)
Dari Ibn ‘Umar radiyallahu ‘anhu beliau berkata: “ seseorang berserdawa (tajassya’) ketika sedang bersama dengan Rasulullah saw. maka beliau SAW bersabda: “ jaga serdawamu dari kami, karena orang-orang yang paling lama laparnya pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak kenyang di dunia”. (HR. Ibn Majah dan lafadz ini darinya).
Di antara hal yang sering terjadi di sebagian tempat-tempat pertemuan ialah aib kedustaan, dari pembicaraan-pembicaraan atau kisah-kisah dan hal-hal yang lain yang sifatnya dusta yang bisa di jadikan sebagai bahan guyonan atau candaan, dan hal semacam ini di kategorikan oleh Rasulullah SAW sebagai dusta.
Dari Abdullah bin Zam'ah radhiyallahu 'anhu ia berkata: kemudian Rasulullah saw. menasihati mereka terhadap apa  yang mereka tertawakan yaitu (seseorang) yang membuang angin, beliau saw. bersabda: mengapa salah seorang di antara kalian tertawa terhadap apa yang mereka telah lakukan?

AMANS - 16.52

Senin, 26 Maret 2012

Resume Ilmu Kalam Part 3

Senin, 26 Maret 2012

BAB XIV
IMAN KEPADA ALLAH dan ITIKAD AHLUSSUNNAH  DENGAN NASH-NASH SYAR’IYAHTENTANG SIFAT-SIFATNYA

1.      Pengertian Iman kepada Allah SWT
Iman berarti hendaknya seorang hamba Allah it mengiktikadkan dengan keteguhan hatinya akan sifat-sifat Allah ST, baik yang wajib, mustahil serta yang jaiz. Secara Ijmali (terperinci) harus beritikad sepenuh hati dengan keadaan ketuhanan-NYa dan mustahil dari sifat kekurangan ,serta jaiz bagi Allah untuk melakukan setiap yang mungkin untuk meninggalkannya. Secara tafsilI (terperinci) sifat-sifata Allah yang menunjukkan kesempurnaan Allah yang berjumlah tigabelas dan mengiktikadkan lawan-lawan dan sifat-sifat tersebut.

1.      Wujud (ada) >< ,Adam (tidak ada)
2.      Qidam ( Dahulu) >< Hudust (Baru)
3.      Baqa, ( Kekal) >< Fana, (Rusak)
4.      Mukhalafatul lilhawaadist Berbeda dengan semua yang baru)>< Mumatssalatu lilhawadits ( sama dengan yang baru)
5.      Qiyamuhu binafsihi ( Berdiri dengan DzatNYA sendiri) >< Qiyamuhu Bi ghoirihi
6.      Wahdanniyah (Esa) >< TA,adud (berbilang)
7.      Qudrat (kuasa) >< ajz (Lemah)
8.      Iradah (Berkehendak) >< Karaahiyah (Terpaksa)
9.      Ilmu (Mengetahui) >< Jahil (Bodoh)
10.  Sama, (Mendengar) >< Shamam (tuli)
11.  Bashar (Melihat) >< A,ma (buta)
12.  Kalam (Berfirman) >< Bakam (bisu)
13.  Hayah (Hidup) >< Maut (Mati)



2.      Sifat Allah dan dalilnya
Sifat wujud (ada) adalah sifat wajib bagi Allah dan mustahil Allah itu adam (tidak ada) buktinya adalah alam serta isinya ini adalah barang yang baru. Buktinya adalah seluruh alam yang kita saksikan dengan segala isi dan kandungannya, adalah barang yang baru. Setiap yang baru pasti ada yang menciptakan.

A.     Mukjizat nabi Musa a.s
Mukjizat nabi Musa salah satunya adalah membelah lautan ketika dikejar oleh raja firaun dengan memukulkan tongkatnya ke laut.san raja firaun tenggelam setelah lautan itu meyatu kembali. Mukjizat ini adalah jaiz atau muntgkin bagi akaldan tidak mustahil terjadi. Hal itu juga jaiz bagi Allah SWT karena hal itu sangat mudah bagi Allah.
Mukjizat yang kedua adalah keluarnya air ketika dari batu ketika tongkatnya dipikulkan.1)Allah SWT mengadakan air itu, namun cara yang duipergunakan adalah ketika nabi Musa memukulkan tongkatnya. Maka pada penglihatan bani Israil seolahy-olah beliaulah yang berkuasa mengeluarkan air tersebuut. 2) Allah mengubah udar disekitar batu tersebut menjadi air. Hanya saja hal tersebut terjadi ketika nabi musa memukulkan tongkatnya. Hal tersebuat adalah hal yang jaiz  yang telah diketahui oleh ahli kimia. Mukjizat yang ketiga  yaitu berubahnya tongkat nabi Musa menjadi ular besar dan memakan ular-ular hasil sihiran tukang sihir raja firaun. Hal tersebut sangatlah mudah bagi Allah SWT. Bagi orang beriman hal tersebut tidaklah mustahil bagi Allah SWT.

B.     Mukjizat Nabi Ibrahim a.s
Nabi Ibrahim tidak terbakar ketika di bakar oleh raja Namrudz ada berbagai pendapat ahli kimia yang menyebabkan api dapat membakar, namun semua teori yang di ajukan dapat terbantahkan dengan keadaan yang lainnya. Dikatakan bahwa api dapat membakar apabila terjadi pijar, namun hal tersebut tidak berlaku pada kunang kunang, dan pendapat yang lainnya. Namun pada akhirnya para ahli tersebut yang hanya menyandarkanpada pengetahuan maka akan berkata “entahlah akupun tidak mengetahui.” Namun bagi Allah SWT  untuk membuat api itu dapat membakar ataupun tidak sangatlah mudah. Karena dengan kejendakNYA lah semua dapat terjadi.

C.     Mukjizat Nabi Isa a.s
Di dalam Al-quran disebutkam bahwa nabi Isa memiliki Mukjizat dapat menyembuhkan orang yang sakit kulit, buta dan dapat menghidupkan orang yang telah mati. Hal ini tentu jaiz bagi akal Karena akan lebih sulit menciptakan manusia daripada menghidupkan manusia, namun bagi Alah SWT sangatlah mudah melakukan hal tersebut.

D.     mukjizat nabi Sulaiman a.s dan Nabi Daud a.s
Mukjizat nabi Suliman yaitu tunduknya bangsa setan dan angin pada beliau dan Nabi Daud dapat melunakkan besi dengan tangannya. Semua itu dapat tunduk  serta dapat dipaksa oleh Allah SWT untuk melakukan Perintah-NYA.
Besi bersifat keras itu memang sunatullah, namun bisa dilunakkan dengan dipanaskan. Namun sifat kerasmy itu bukan keharusan, bagi Allah SWT dapat dengan mudah melakukan semua hal tersebut.




3.      Mukjizat Nabi Muhammad SAW dan keterangan-keterangan mengenai bukti kebenaran pengakuannya
Mukjizat Nabi Muhammad yang paling besar adalah Kitab Suci Al-Quran. Hanya mukjizat inilah yang kekal sampai pada lenyapnya alam dunia. Berbeda dengan mukjizat lainnya yang berlaku pada kondisi/waktu tertentu. Tujuan diberikan mukjizat pada rasul-rasul Allah adalah supaya putuslah hujjah mereka sehingga tidak ragu lagi pada RasulNYA.
Nabi Muhammad semenjak lahir sudah terkenal dengan sifat belia yang Amanah (dapat dipercaya) serta siddiq (jujur) sehingga beliau diberi gelar Al-Amien (yang sangat dapat dipercaya) dalam masa empat puluh tahun sebelum nabi diangkat menjadi Rasul, beliau tidak pernah belajar membaca dan menulis serta tidak pernah bergaul dengan ahli baca dan tulis. Dan juga tidak pernah bergaul dengan ahli-ahli lainya. Jadi sangat tidak mungkin Nabi Muhammad yang  disebarkanya itu adalah hasil dari belajar dari para ahli, namun itu benar-benar dari Allah SWT. Beliau membawa syara’yang dapat menjamin kebahagiaan seluruh manusia di dunia dan akhirat. Syara’ yang menghapuskan sebagian besar ajaran-ajaran dari Rasul-rasul terdahulu.
Ajakan Rasullulah SAW pada awalnya tidaklah ditanggapi dengan baik oleh masyarakat setempat bahkansampai dijauhi dan diajak debat dengan berbagai hujjah-hujjah serta beliau dimusuhi. Akan tetapi yang haq itu pasti menang dan yang batil pasti kalah.

BAB XV
DAFTAR RINGKAS I’TIKAD AHLUSSUNNAH WALJAMAAH XV

1.    Iman ialah meikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati.
2.    Iman yang sempurna yaitu meikrarkan dengan lisan,membenarkan dangan hati dan mengerjakan dengan anggota.
3.    Tuhan itu ada dan memiliki nama Allah serta memiliki 99 nama Allah.
4.    Tuhan memiliki sifat yang banyak sekali,tetapi yang boleh disimpulkan dengan perkataan yaitu,Allah memiliki sifat Jalal(kebesaran),Jamal(keindahan),dan Kamal(kesempurnaan).
5.    Sifat Allah yang wajib diketahui oleh sekalian mukmin yang baligh/berakal ada 20 sifat.
6.    Allahllah memiliki sifat yang harus baginya.
7.    Wujud,artinya Ada,mustahil ia TidaWujud,artinya Ada,mustahil ia TidaWujud,artinya Ada,mustahil ia Tidak Ada.
8.    Qidam,artinya tidak bepermulaan ada-nya mustahil ada-nya permulaan.
9.    Baqa,artinya tidak ber-kesudahan ada-nya, mustahil ada-nya berkesudahan
10.    Mukhalafatuhu ta’ala lilhawaditsi,artinya ia berlainan dengan sekalian makhluk,mustahil iaserupadengan dengan makhluk-nya.
11.    Qiyamuhu binafsihi,artinya ia berdiri sendiri,bukan berdiri diatas zat lain,murdiri diatas zat lain,mustahil ia berdiri diatas zat lain
12.     Wahdaniyah,artinya ia Esa(satu),mustahil ia banyak.
13.     Qudrat,artinya kuasa,mustahil ia tidak berkuasa.
14.     Iradat,artiya menenukan sendiri dengan kehendaknya. Mustahil ia dipaksa-paksa.
15.     Ilmu artinya ia tahu,mustahil ia tidak tahu.
16.     Hayat,artinya hidup,mustahil ia mati.
17.     Sama’,artinya mendengar,mustahil baginya tidak mendengar.
18.     Bashar,artinya melihat,mustahil baginya buta.
19.     Kalam,artinya berkata,mustahil ia bisu.
20.    Kaunuhu Qodiran,artinya ia dalam keadaan berkuasa,mustahil ia dalam keadaan tidak berkuasa.
21.    Kaunuhu muridan,artinya ia dalam keadaan mempunyai Iradat,mustahil ia dalam keadaan yang tidak mempunyai iradah.
22.    Sifat yang wajib bagi  Allah hanyalah satu,yaitu ia boleh memperbuat dan boleh pula tidak memperbuat.
23.    Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai sekalian Rasul-Rasul yang diutus Allah kepada manusia.
24.    Setiap orang Islam wajib mempercayai hari akhir(kiamat).
25.    Kaum Ahlussunnah mempercayai Qadha dha dan Qaddan Qadar,yaitu takr,yaitu takdir Ilahi.
26.    Tuhan bersama nama-nya dan sifat-nya,semuanya qadim,karena nama -nya,semuanya qadim,karena nama dan sifat itudan sifat itu berdiri diatas zat yang qadim. Maka karena itu sekalian sifat Tuhan adalah Qadim berdiri diatas zat yang qadim. Maka karena itu sekalian sifat Tuhan adalah Qadim.
27.    Quran al-karim adalah Kalam Allah yang qadim.
28.    Rezki sekalian manusia sudah ditakdirkan dalam azal,tidak bertambah dan tidak berkurang,tetapi pada intinya manusia disuruh mencari rezki,disuruh berusaha,tidak boleh menunggu saja.
29.    Ajal setiap manusia sudah ditentukan oleh tuhan,tidak terkemudian dan tidak terdahulu walaupun sedetik.
30.    Doa orang mukmin memberi manfaat baginya dan bagi yang dido’akan.
31.     Ziarah kubur adalah sunnah hukumnya dan apabila dikerjakan mendapatkan pahala.
32.    Mengutus Rasul-Rasul adlah suatu karunia Tuhan kepada hambanya,untuk menuju jalan yang lurus.
33.    Wajib diketahui dan diyakini oleh seluruh umat Islam bahwa Nabi Muhammad Saw. Lahir di Mekkah.
34.     Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul  pada saat berumur 40 tahun.
35.     Selama 32 tahun ayat al-quran selalu diturunkan  kepada rasullulah.
36.     Wajib juga diyakini bahwa sahabat nabi yang paling mulia adalah Saidina Abu Bakar.
37.     Kaum Ahlussunnah Wal Jam’ah meyakini adanya keramat.
38.    Dosa menurut faham Ahlussunnah Wal Jam’ah terbagi 2,yaitu ada dosa besar dan ada pula dosa kecil.
39.    Adapun dosa besar itu ialah: Syirik(mempersekutukan Tuhan,ini paling besar),membunuh orang dengan tidak hak,makan riba,mendurhakai orang tua(ibu/bapak),bebuat zina,dll.

BAB XVI
KEADILAN DIDALAM KAITANNYA DENGAN IRADAT
DAN KODRAT ILLAHI

Didalam tesis tentang keadilan illahi itu termasuk tiga permasalahan yang paling pokok, yaitu :
1.      Masalah kebajikan dan kebajikan lebih
2.      Masalah baik dan buruk
3.      Masalah kemauan bebas
Didalam ketiga permasalahan itu aliran Iktizal mengemukakan pokok-pokok pikiran (nazariat teori) yang tidak tertahankan dann tidak tertangkis oleh pihak-pihak luaran tetapi sebaliknya beroleh reaksi sengit dan pihak-pihak sebelah dalam islam sendiri, terutama dari kalangan Ahli Hadist (Al Muhaddistin).
Anda sebagai seorang muslim niscaya meyakini didalam hati bahwa Allah itu maha adil, tetapi pernahkah anda mendalami pengertian Keadilan-Illahi itu dengan teliti dan terperinci?
Jika tidak, maka aliran Iktizal telah membahas permasalahan itu secara terbuka didalam diskusi didepan balai penghadapan Khalif al Makmun, berikutnya bagi menjawa tantangan dan pihak tokoh-tokoh yang bukan muslim. Diskusi itu berjalan secara terbuka dan bebas.
Ibn Nizham (994-1064M), ahli piker dan ahlli sejarah yang oleh dunia barat pada zaman Rennaissance dipanggilkan dengan Alhazem, memungut alas pikiran aliran Iktizal didalam karyanya Al Faslu fil Milal wal Ahwal Wal Nihal jilid III halaman 98 sebagai berikut:
”Seorang yang melakukan kebengisan terhadap seorang lainnya didalam kehidupan alam nyata dipanggil Si Buas. Seorang yang memerintahkan seorang lainnya melakukan suatu perbuatan dan kemudian menyiksanya karna perbuatan itu dipanggil dengan Lalim dan Buas.
Allah itu maha suci untuk disifati Lalim dan Buas. Allah sendiri bersabda “Tuhanku bukanlah lalim bagi hambaNya” (surah Fusshilat 46) : dan “Bukan Kami yang berlaku lalim akan tetapi mereka sendiri berbuat sewenang-wenang terhadap dirinya” (surah al Baqarah 57).
Sejalan dengan alas pikiranitu aliran Iktizal menyimpullkan pendiriannya :
1.    Allah mengarahkan makhlukNya kepada suatu  tujuan dan berkehendakkan suatu kebajikan senantiasa bagi makhlukNya.
2.    Allah tidak berkehendakkan kejahatan, jangankan memerinyahkannya.
3.    Allah tidak menciptakan gerak laku hambaNya, baik maupun jahat, tetapi kemauan manusia adalah bebas hingga manusia itu sendiri yang menciptakan gerak lakunya, dan bertanggung jawab atas setiap perbuatannya

Tiga kesimpulan itulah yang telah melahirkan tiga permasalahan yang telah dikemukakan di awal.
Baik dan buruk itu, demikian aliran Iktizal, adalah essensi pada setisp perbuatan. Segala perbuatan yang baik seumpama adil, berani, jujur, santun adalah diri zatnya sendiri baik hingga membuat kita mampu menyatakannya baik setiap kali menyaksikannya dan segala perbuatan yang buruk seumpama lalim, pengecut, curang, kedekut adalah diri zatnya sendiri buruk hingga membuat kita mampu menyatakannya buruk setiap kali menyaksikannya.
Syariat ilahi didalam memerintahkan sesuatu maupun melarang sesuatunya selaras dengan zat yang dimiliki sesuatu itu, yakni zat baik dan zat buruk pada sesuatunya itu. Perintah ilahi supaya memelihara diri dan harta adalah karena zatyang diperintahkan tu memang baik. Larangan ilahi supaya jangan membunuh dan jangan mencuri adalah karena zat yang dilarang itu memang buruk. Syariat ilahi didalam menyatakan baik dan buruk pada segala sesuatunya itu besifat memberitahukan , bukan bersifat menetapkannya. Sedangkan akal bersifat mengenalinya bukan bersifat menentukan. Syariat bukan menetapkan dan akal bukan menentukan, demikian aliran Iktizal, karena zat dan sesuatunya itunbukan disebabkan faktor luaran, akan tetapi karena zatnya sendiri. Akal mengenali sekaliannya itu melalui dua jalan: pertama, tanpa renungan dan penelitian mendalam akan tetapi menangkap dengan mudah bahwa sesuatunya itu baik ataupun buruk, seumpama menolong orang terbenam adalah baik dan menipu adalah buruk. Kedua, memerlukan renungan dan penelitian yang mendalam bagi mengenali baik dan buruk itu.

Soal yang diajukan aliran Iktizal itu menyebabkan lahir garis pendirian bahwa Allah itu senantiasa hanya menghendaki tindak laku kebajikan pada manusia itu ada dan tindak laku kejahatan manusia itu supaya tiada. Itulah inti pada iradat ilahi. Tindak laku yang tidak baik dan jahat tidak dikehendakiNya dan tidak dibenci olehNya. Dengan kata lain : Setiap manusia berkewajiban mematui setiap perintah seumpama solat, zakat, mengesakan Allah dan mengimani rasul serta menghindari setiap larangan seumpama syirik, kufur, fusuq.
Dr. Ahmad Amin didalam dhuhaul islami jilid III cetakan 1964 halaman 52 mengemukakan alas pikiran aliran  Iktizal sebagai berikut :
1.      Jiklau Allah itu menghendaki kekufuran seorang kafir dan kedurhakaan seorang ‘Ashi sudahtentulah Allah tidak akan melarang kufur dan durhaka itu. Betapa bisa tergambarkan bahwa Allah menghendaki Abu Lahab itu seorang kafir tetapi kemudian memerintahkannya :jangan kufur dan jangan durhaka. Jikalau serupa itu dilakukan seorang manusia niscaya orang itu akan dianggap safiun (bodoh keterlaluan). Sedangkan Allah itu maha suci untuk dinyatakan begitu.
2.      Jikalau kekufuran seseorang kafir dan kedurhakaan seorang ‘Ashi itu dikehendaki oleh Allah sudah tentu tidak layak seorang kafir maupun seseorang ‘Ashi itu beroleh siksa.
Pihak aliran  Iktizal didalam sekalian permasalahan berikhtiar memahamkan hal-hal yang berkaitan dengan yang Ghaib (Allah) itu dengan jalan memperbandingkannya dengan hal-hal yang bertalian dengan yang nyata (manusia). Lawan aliran Iktizal tidak dapat menerima perbandingan-perbandingan serupa itu. Allah itu punya ukuran-ukuan tersendiri yang berbeda dengan ukuran-ukuran pada manusia. Ukuran-ukuran tersebut tidak akan pernah tercapai dan terpahamkan oleh akal sepanjang hakikatnya, kecuali sekadar kiasan belaka.
Pengertian-pengertian yang kita miliki itu adalah konsepsi kita, yakni konsepsi manusia, hingga pengertian-pengertian itu tidak selamanya dapat dipasangkan terhadap Allah, apalagi jikalau hendak dipasangkan secara mutlak. Alas pikiran itu pada lahirnya benar, tetapi bilamana didalami lebih teliti akan bermakna bahwa manusia itu harus menghentikan berpikir tentang Allah. Hal itu bertentangan dengan tabiat manusiawi, karena hakikat manusia itu adalah berpikir. Apalagi Allah sendiri didalam kitab suci Al-Quran tidak hentnya memerintahkan manusia berpikir tentang alam semesta dan alam kejadian dan alam kehidupan bagi memahamkan Allah. 

BAB XVII
LA ILAHA ILLALLAH
PANGKAL TUJUAN PENCIPTAAN

Sesungguhnya La Ilaha Illallahu (tiada tuhan yan patut disembah melainkan Allah) merupakan pangkal dan wujud (penciptaan) makhluk yang pertama, yang besar dan kekal. Allah menciptakan bangsa jin dan manusia semata-mata bertujuan agar supaya mereka meng-esakan Allah dan menyembah kepadaNya.  firmanNya : “dan tidak kami mengutus seorang rasul pn sebelum kamu. Melainkan Kami wahyukan kepadanya : “bahwasanya tidak ada tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (Q.S. 21:25)
            Dan diantara inti tauhid adalah memuji kepada Allah yang maha Tinggi maha Agung, maha Luhur dan maha Penyayang. Dengan demikian, kami memuji Allah dzat yang telah menjadikan ketauhidan (peng-esaan) kepadaNya perkara yang pertama dan masalah yang paling besar serta hakekat yang paling kekal abadi. Dari segi petunjuk dalam pembukaan ini ialah sesungguhnya kami adalah umat islam.kami tidak menyembah kepada orang yang tidak dikenal tetapi kami menyembah kepada Tuhan yang telah kami mengenalNya dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya.
            Demikian pula, sesungguhnya ilmu yang dijadikan sebagai alat untuk mengetahui dan mengenal Allah yang merupakan ilmu yang besar, paling mulia dan paling berguna itu merupakan manhaj (sistem) yang tauqifiyah. Dan cara memperoleh ilmu dengan manhaj tauqikiyah itu adalah dengan wahyu yaitu, merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada rasulnya dan merupakan sunah rasul dalam mengenalkan kita kepada Allah.
            Sesungguhnya Allah telah menginformasikan melalui Qur’an bukti-bukti yang menujukkan ke-RububiyahanNya, cirri-ciri khas ke-UluhiyahanNya dan juga menginformasikan nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Sehingga rasulullah pun beriman kepada apa yang diberitakan Allah mengenai kehendakNya sekalian beliau menjelaskan dengan sunnah qauliyah ketauhidan (keesaan Allah) dan kemurnian tauhid yang dikehendaki oleh Allah, kemudian beliau mengajarkan keimanan itu kepada sahabat-sahabatnya.
            Keterkaitan secara tematis dan sistematis antara tauhid dan persoalan-persoalan tersebut akan menunjukkan atas:
1.      Bahwa tauhid merupakan manhaj (sistem) yang menjadi hakim, yang mana kita wajib memahami setiap pesoalan itu berdasarkan petunjukknya.
2.      Sesungguhnya penyimpangan dalam persoalan-persoalan tersebut akan menjurus dan mengakibatkan tauhid yang buruk dan sakit. Hal itu seperti keadilan sahabat, jika kita mencatat kepada keadilan sahabat tersebut maka hal itu akan membawa kita untuk menolak ayat-ayat al Quran yang telah menginformasikan tentang kelebihan dan keadilan para sahabat. Jika kita menolak informasi alQuran berarti kita adalah ateis.
3.      Sesungguhnya orang-orang yang berbantah-bantahan dengan kebathilan baik zaman dahulu maupun zaman modern dalam persoalan-persoalan tersebut menandakan aqidah mereka tidak benar.

Pandangan ulama ahlussunnah
a.    Imam Abu Hanifah. Orang mukmin yang sejati dann orang kafir yang sejati, ialah orang-orang yang keimanannya tidak ada rasa ragu-ragu. Seperti halnya orang itu dalam kekufurannya tidak dicampuri rasa ragu dan bimbang. Sedangkan orang-orang yang tidak berbuat maksiat diantara ummat Muhammad, mereka semua adalah orang yang beriman sebenar-benarnya, merekan bukan orang-orang kafir.
b.    Imam Malik. Imam Malik rahimahullah berkata: “iman itu adalah perktaan dan perbuatan. Iman bisa bertambah dan bekurang dan sebagian iman itu ada yang lebih utama dan ada yang lain. Pada suatu ketika ada seorang bertanya kepada imam Malik: “wahai Abu Abdullah: “Allah  itu bersemayam diatas arsy, bagaimana cara Allah itu bersemayam?” jawab beliau: “bersemayam itu merupakan sebuah perkarayang sudah dimengerti. Sedang caranya adalah hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal fikran manusia. Menanyakan persoalan itu merupakan bid’ah, mengimani hal tersebut merupakan kewajiban. Beliau juga sering mengemukakan ucapan penyair berikut ini: “dan sebaik-baik agama adalah yang berdasarkan sunnah Nabi Muhammad saw.
c.    Imam Syafi’i.Imam Syafi’I rahimahullah berkata: “iman adalah pernyataan dan perbuatan. Iman bisa betambah dan bisa berkurang”. Iman itu mempunyai beberapa keadaan, tingkatan dan kelas. Dintaranya , tingkatan iman itu ada yang paling mencapai puncak kesempurnaan dan ada tingkatan yang paling rendah, dan ada pula yang tingkatan lebih kuat.
d.   Imam Ahmad bin Hambal. Imam Ahmad bin Hambal berkata: “menurut kami prinsip-prinsip yang dipegangi oleh ahlu sunnah ialah berpegang teguh terhadap apa yang telah dikerjakan oleh para sahabat Rasulullah saw mengikuti jejak mereka, membuang jauh bid’ah karena bid’ah itu adalah sesat, meninggalkan permusuhan dan tidak berkawan dengan orang-orang yang hanya menuruti hawa nafsu belaka. 

AMANS - 07.42